Satuan Pengawasan Intern

Kepala SPI - Mohamad Jufri

      Kepala SPI – Mohamad Jufri

Selama tahun 2011, Satuan Pengawas Internal (SPI) telah melaksanakan aktivitas audit atas seluruh area-area audit yang diperkirakan signifikan dan berpotensi menggangu pencapaian tujuan perusahaan. Peran SPI sebagai katalisator tumbuhnya kesadaran manajemen akan pentingnya manajemen risiko telah mampu diimplementasikan secara baik terkait dengan peran Audit Internal sebagai Strategic Business Partner (SBP) bagi manajemen lini PT TASPEN (Persero).

SPI telah melaksanakan tugas penilaian atas kecukupan dan efektivitas pengendalian intern serta penilaian atas kualitas kinerja unit line of management; melakukan evaluasi atas kecukupan dan efektivitas proses manajemen risiko serta praktek Good Corporate Governance atas seluruh aspek dan unsur kegiatan perusahaan; dan melaporkan seluruh temuan auditnya sesuai ketentuan yang berlaku baik secara triwulan maupun semester.

I. Dasar Hukum

Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN, TASPEN sebagai BUMN wajib membentuk Satuan Pengawasan Intern (SPI) yang dipimpin oleh seorang Kepala SPI dan bertanggung jawab kepada Direktur Utama.
Keputusan Direksi Nomor: SK-38/DIR/1999 tanggal 21 September 1999 tentang Struktur Organisasi dan Uraian Jabatan PT TASPEN (PERSERO), berada dibawah Direktur Utama, disamping Sekretaris Perusahaan dan PUSTEKSI.
Keputusan Direksi Nomor: SK-39/DIR/1999 tanggal 21 September 1999 tentang Jabatan Fungsional PT TASPEN (Persero).
Keputusan Direksi Nomor: SK-26/DIR/2001 tanggal 11 Desember 2001 tentang Pedoman Perusahaan PT TASPEN (Persero).
Internal Audit Charter.
Code of Conduct.
Standar Audit BUMN/BUMD.
Penggunaan teknologi informasi dalam audit.

II. Visi, Misi dan Paradigma SPI 

1. Visi :
Menjadi mitra strategis yang profesional bagi manajemen.
2. Misi :
Sebagai aparat pengawasan fungsional, selalu meningkatkan kompentensi sehingga menjadi auditor internal yang profesional. Mendorong pencapaian tujuan perusahaan dengan melakukan evaluasi yang sistimatis untuk meningkatkan efektifitas mengendalian internal, pengelolaan risiko dan proses GCG.
Mendorong pelaksanaan Control Self Assesment (CSA) pada tiap unit kerja dalam mengindentifikasi risiko dan pengembangkan sistim pengendalian internal.
3. Paradigma SPI :
SPI sebagai katalisator, konsultan dan mitra kerja dalam peningkatan kinerja perusahaan.
Pengawasan diarahkan pada peningkatan sistim pengendalian internal, pemberdayaan prinsip CSA dan GCG.
Peningkatan audit kepatuhan pada seluruh fungsi untuk membudayakan pelaksanakan GCS.
Penekanan Audit berbasis risiko (Risk Based Audit).

B. Paradigma SPI
Dalam melaksanakan tugasnya, SPI mengacu pada perilaku dan praktik terbaik (best practice) yang berlaku umum sebagai rujukan bagi pelaksanaan audit yakni sebagai berikut :
1). SPI sebagai katalisator, konsultan dan mitra kerja dalam peningkatan kinerja perusahaan.
2). Pengawasan diarahkan pada peningkatan sistem pengendalian internal, pengelolaan risiko, pemberdayaan prinsip CSA dan GCG.
3). Peningkatan audit kepatuhan pada seluruh fungsi untuk membudayakan pelaksanaan GCG.
4). Penekanan audit berbasis risiko (Risk Based Audit)
5). Penggunaan Teknologi Informasi dalam audit.

Satuan Pengawasan Intern (SPI) melaksanakan aktifitas audit atas seluruh area-area audit yang diperkirakan signifikan dan berpotensi menggangu pencapaian tujuan perusahaan. Peran SPI sebagai katalisator tumbuhnya kesadaran manajemen akan pentingnya manajemen risiko telah mampu mengimplementasikan peran Audit Internal sebagai Srategic Business Partner bagi manajemen PT Taspen (Persero).
SPI melaksanakan tugas penilaian atas kecukupan dan efektivitas pengendalian intern serta penilaian atas kualitas kinerja unit kerja, melakukan evaluasi atas kecukupan dan efektifitas proses manajemen risiko serta praktek Good Corporate Governance (GCG) atas seluruh aspek dan unsur kegiatan perusahaan dan melaporkan seluruh temuan auditnya sesuai ketentuan yang berlaku baik secara triwulan maupun semester.
Dalam melaksanakan audit, SPI berpedoman pada Internal Audit Charter, Standar Audit BUMN dan Code of Conduct.
III. DESKRIPSI SPI
1. Fungsi
SPI adalah unit kerja yang dibentuk dan bertanggungjawab langsung kepada Direktur Utama yang memiliki fungsi sebagai berikut :
a. Membantu Direktur Utama dalam menyelenggarakan penilaian atas sistem pengendalian, pengelolaan (manajemen) serta memberikan saran perbaikannya.
b. Sebagai mitra strategik Unit Kerja dalam mencapai sasaran usaha.
c. Sebagai konsultan dalam peningkatan pengelolaan risiko, pengendalian internal dan penerapan prinsip-prinsip GCG.
d. Sebagai penanggung jawab pelaksanaan self assessment GCG.
e. Sebagai mitra kerja dari Komite Audit dan Auditor Eksternal.
f. Memberikan keyakinan (assurance) kepada Direksi, Komite Audit dan unit kerja atas efektivitas penerapan sistem manajemen risiko.
g. Memberikan nilai tambah bagi perusahaan melalui rekomendasi atas hasil audit yang dilakukannya.
2. Tugas dan Tanggung Jawab
a. Melaksanakan program kerja pengawasan atas pelaksanaan semua kebijakan dan keputusan Direksi serta program kerja perusahaan.
b. Melakukan penelitian dan pengujian atas kebenaran laporan atau informasi mengenai segala hal yang dapat menyebabkan kerugian perusahaan.
c. Melakukan penilaian atas semua sistem, prosedur dan ketentuan perusahaan untuk mendorong efektivitas dan ketaatan dalam pelaksanaannya atau perbaikannya.
d. Melakukan penilaian dan pemantauan operasional perusahaan untuk memberikan saran kepada Direksi mengenai pengendalian/ pengelolaan risiko usaha.
e. Melakukan penilaian serta pemantauan atas pelaksanaan prinsip-prinsip GCG oleh semua organ perusahaan.
f. Membuat dan menyampaikan laporan kepada Direktur Utama mengenai temuan hasil audit dan saran perbaikan.
g. Melakukan pemantauan pelaksanaan tindaklanjut hasil audit, baik atas temuan hasil audit SPI dan SPIDA maupun atas hasil audit Auditor Eksternal dan melaporkan hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut tersebut kepada Direktur Utama.
h. Melaksanakan tugas sebagai mitra kerja (counterpart) Auditor Eksternal.
i. Bertanggungjawab atas penilaian, pembinaan dan peningkatan mutu karyawan pada unit SPI dan SPIDA.
3. Wewenang
a. Menyusun, mengubah dan melaksanakan kebijakan audit internal termasuk menentukan prosedur dan lingkup pelaksanaan audit.
b. Memiliki akses penuh, bebas dan tidak terbatas terhadap
semua dokumen, catatan, personal, sumber daya/dana, fisik
kekayaan Perusahaan lainnya diseluruh unit kerja perusahaan
untuk mendapatkan data dan informasi yang berkaitan dengan
pelaksanaan tugas audit.
c. Melakukan penyelidikan/Audit investigasi terhadap semua kasus/ masalah yang dapat menimbulkan kerugian materil maupun imateril bagi perusahaan.
d. Melakukan verifikasi dan menguji keandalan terhadap informasi yang diperoleh, dalam kaitan dengan penilaian efektivitas sistem pengendalian internal.
e. Dapat melakukan audit dan evaluasi terhadap anak perusahaan dan usaha yang terkait dengan kesejahteraan karyawan atas perintah tertulis Direktur Utama.

Dalam pelaksanaan tugas Kepala Satuan Pengawas Internal (Akhmad Khumaedi) didukung oleh para kepala Spida dan para fungsional SPI.

  1. SPI berkedudukan di Kantor Pusat Jakarta dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama.
  2. SPIDA berkedudukan di Kantor Cabang Utama dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala SPI
  3. Fungsional SPI bertanggung jawab langsung kepada Kepala SPI.
  4. Fungsional SPIDA bertanggung jawab langsung kepada Kepala SPIDA.
  1. Mekanisme Kerja
  • Menyusun perencanaan kegiatan yang meliputi :
  1. Rencana Jangka Panjang untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yang disesuaikan dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP).
  2. Rencana Jangka Pendek berupa Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT), yang mengacu pada Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) yang dijabarkan dalam Plan of Action (POA).
    • Melaksanakan pengawasan dengan menggunakan sumber daya secara efektif dan efisien sesuai PKPT
    • Dalam pelaksanaan pengawasan berpedoman pada Ketentuan dan Standar Profesi Auditor Internal, Pedoman Audit SPI dan SOP serta ketentuan yang berlaku dan atau kebijakan Direksi.
    • Dalam hal audit dilaksanakan oleh SPIDA, maka Kepala SPIDA wajib menerbitkan dan menyampaikan hasil audit secara lengkap terdiri dari Laporan Hasil Audit (LHA), Executive Summary dan Konsep Surat Tindaklanjut kepada Direktur Utama   melalui Kepala SPI.
    • Dalam hal audit dilakukan oleh SPI, maka Kepala SPI menerbitkan dan menyampaikan hasil audit secara lengkap terdiri dari LHA, Executive Summary dan Konsep Surat Tindaklanjut kepada Direktur Utama.
    • Kepala SPI menyampaikan Executive Summary dan LHA dari SPI dan SPIDA kepada Komite Audit.